Notification

×

Iklan

Iklan

Suara Solidaritas untuk Indra Wijaya, Jurnalis Harian Serambi Aceh yang 'Dikasari Oknum Polisi'

Senin, 12 September 2022 | September 12, 2022 WIB Last Updated 2022-09-12T06:41:29Z

 

Jurnalis, Abdul Muin L.O dirangkul oleh Kabidhumas Polda Sulsel, Kombes Pol Komang Suartana diapit oleh 2 orang jurnalis wanita dalam satu suasana di Mapolda Sulsel. Sikap bersahabat dan perilaku kemitraan seorang mKabidhumas yang patut diapresiasi. (Foto: Sahrul Arjuna/Liputan7.id)

Okesulsel.com, MAKASSAR -- Insiden yang menimpa wartawan Harian Serambi Aceh, Indra Wijaya, kini tengah bergulir. Seiring dengan mencuatnya aksi unjukrasa mahasiswa terkait dengan kenaikan harga BBM (Bahan Bakar Minyak). 


Pemicu insiden ini, memang aksi unjukrasa BBM. Indra Wijaya mengalami kasus ini - yang bisa disebut sebagai korban 'kekerasan' - ketika bertugas meliput aksi unjuk rasa mahasiswa tentang kenaikan harga BBM di depan Gedung DPR Aceh (DPRA), Rabu, (7/9-2022) lalu.

Sementara merekam live striming facebook untuk medianya Harian Serambi Aceh dengan menggunakan fitur kamera hp-nya, , tiba-tiba saja tangannya yang memegang HP dipukul oleh seorang oknum tak dikenal karena berpakaian bebas (freeman alias preman).

Namun, diduga kuat oknum tersebut adalah polisi. Dugaan dan spekulasi yang berkembang saat itu, dia kemungkinan besar seorang polisi yang sedang bertugas dalam bentuk pamtup (pegamanan tertutup), atau dia dari satuan reserse (satres) ataukah satuan intelkam (satintelkam) yang memang dibolehkan institusinya berpakaian biasa seperti itu. 

Sebagai illustrasi, aksi demo serupa terkait dengan kenaikan harga BBM juga terjadi di beberapa titik di Kota Makassar. Misalnya di Jl Perintis Kemerdekaan, depan Kampus UNHAS (Universitas Hasanuddin), di Jl Urip Sumoharjo, depan Kampus UMI (Universitas Muslim Indonesia), di Jl AP Pettarani, depan kampus UNM (Universitas Negeri Makassar) dan di lokasi lainnya. Namun, tak terjadi arogansi polisi terhadap wartawan yang meliput aksi unjukrasa mahasiswa. 

Kembali ke insiden perusakan perangkat kerja, Indra Wijaya, seorang wartawan di Aceh, siapapun itu, asalkan pihak kepolisian transparan dan mau menuntaskan kasusnya, tak akan kesulitan menemukan oknum pelakunya.

Pasca kejadian, muncul reaksi 2 pimpinan organisasi kewartawanam. Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Aceh, Nasir Nurdin dan Ketum PJMI Pusat (Perkumpulan Jurnalis Mediasiber Indonesia), Bakri Remmang. Kedua pimpinan organjsasi wartawan itu , mengecam keras tindakan oknum tersebut dan mendesak Kapolda Aceh untuk mengusut tuntas. 

Kedua ketua organisasi wartawan itu melihat perlakuan oknum tersebut merupakan tindakan melawan hukum yang tidak bisa ditolerir dan harus diruntaskan karena menghalang-halangi kerja wartawan yang sedang bertugas. Acuannya, UU Pokok Pers No. 40 s7Tahun1999. 

Baca juga: Pimpinan Pusat PJMI Kecam Pengrusakan Perangkat Kerja Jurnalis di Aceh. Ini Ancaman Kebebasan Pers sebagai Pilar Demokrasi 

Unjukrasa BBM mahasiswa di Jl Perintis Kemerdekaan, depan Kampus UNHAS Makassar. Mahasiswa bakar ban mengepulkan asap hitam pekat dan memacetkan jalan (Foto: ABDUL).
 

Indra Wijaya Alami Kekerasan Verbal

Nah, berikutnya muncul suara solidaritas sesama jurnalis dari Celebes (Sulawesi). Dia, Abdul Muin L.O, jurnalis yang memang suka bersuara ketika ada unsur pers dilecehkan atau mendapatkan perlakuan tidak etis. 

Wartawan yang akrab disapa Abdul alias Muin L.O ini, mengatakan, insiden yang dialami Indra Wijaya, wartawan Harian Serambi Aceh itu kalau dilihat dari sudut pandang kasus relatif kecil. 

"Berapa sih nilainya hp kalau rusak, dan Indra Wijaya juga tidak mengalami perlakuan kekerasan fisik, enteng kan?" ujar Abdul, Sabtu, (10/9-2022) di Makassar. 

Namun, urai Abdul, secara etika dan eksistensi pers kalau didalami itu termasuk tindakan gegabah dan beresiko. "Maaf, saya menilai tindakan itu arogan, tidak etis dan tidak bersahabat sehingga 'melukai' eksistensi jurnalis dan pers Indonesia, " tegas Abdul.

Abdul yang saat ini sebagai kru NUANSABARU.ID dan Okesulsel.com, menuturkan, memang kalau dilihat secara material ini kasus kecil dan unsur kekerassan fisiknya juga nihil. Namun, ia menilai insiden ini, Indra Wijaya mengalami semacam kekerasan verbal. 

"Logikanya, kekerasan verbal itu lebih berkesan dan terasa ketimbang kekerasan fisik. Kalau kekerasan fisik, misalnya korbannya menderita luka, kalau lukanya sudah diobati dan sembuh kan selesai. Tapi kalau kekerasan verbal itu biasanya sulit dilupakan dan multiefect atau berdampak ganda, " hemat Muin L.O, sapaan lain purnabakti Harian Berita Kota Makassar (Media FAJAR Grup). 

Pertama, urainya lagi, insiden ini dampaknya jadi antiklimaks dari 'konsep bijak' dari Kapolri tentang Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi dan Berkeadilan) Dalam hal ini, junalis ini berpendapat bukan hanya Kapolda Aceh saja yang harus menuntaskan, tapi, Pak Kapolri juga patut bersikap.

"Pak Kapolri yang selama ini dikenal banyak terobosannya yang berpihak kepada masyarakat banyak, patut bersikap untuk penyelesaian insiden itu," ujar jurnalis itu.  

Satu diantaranya, dibawa kepepimpinan Kapolri, Jenderal Listyio Sigit Prabowo, ia getol menekankan kepada jajarannya senantiasa berupaya agar Polri lebih dicintai masyarakat. Kontaradiksi dengan sikap oknum tersebut yang diduga anggota Polri yang mengkasari wartawan.

Potret demo BBM mahasiswa di Jl Urip Sumoharjo, depan Kamous UMI Makassar. Jalan sempat ditutup rapat, petugas negosiasi agar mahasiswa mau buka jalan ( Foto: ABDUL


Teman Seprofesi Semangati Indra Wijaya

Insiden yang dialami Indra Wijaya diistilahkan oleh Muin L.O hanya kerikil tajam yang patut diselesaikan. Disebut kerikil tajam karena memperlakukan kasar, arogan dan tidak etis kepada seorang jurnalis. 

"Dampak lainnya, saya sependapat dengan seruan Ketum PJMI, Pak Bakri Remmang yang mengatakan bahwa tindakan oknum tersebut mengancam kebebasan pers sebagai pilar demokrasi, " hemat Muin L.O yang juga lama mengabdi sebagai wartawan Majalah Generasi Muda Estafet Jakarta. 

Muin L.O menambahkan, kalau mau bijaksana atau mau bersikap sebagai mitra yang langgeng, apa sih salahnya menyarankan kepada Indra Wijaya untuk tak merekam suasana yang kurang menguntungkan. Bukan langsung main hantam kromo (memukul) tangannya wartawan sehingga kameranya jatuh dan rusak. "Itu kan tindakan kasar dan tidak etis namanya, " kata Muin L.o.

Karena perlu diingat, lanjutnya, pihak lain termasuk polisi dan siapapun tidak berhak menghalang-halangi kinerja wartawan yang bertugas demi kepentingan publik asal wartawannya bekerja atas dasar kode etik jurnalistik. 

Jurnalis Muin L.O, peraih Piala Kapolda Sulsel dalam Lomba Karya Jurnalistik tahun 2022 ini kemudian mengutip pesan bijak seorang tokoh pers Sulsel. 

"Wartawan itu bebas memuat dan bebas untuk tidak memuat, " pesan H.M. Alwi Hamu, legenda hidup Pers Sulsel dan mantan Ketua PWI Sulsel, seperti dikutip Muin L.O. "Saya selalu berpegang teguh dan memaknai pesan singkat, Pak Alwi Hamu itu, "ungkapnya. 

Terakhir, Muin L.O menyatakan obyek berita wartawan Harian Serambi Aceh, Indra Wijaya seputar aksi unjukrasa mahasiswa tentang kenaikan harga BBM itu sangat layak dan patut ditayangkan untuk diketahui masyarakat kondisi obyektifnya. 

"Pesan saya ke teman seprofesi, Indra Wijaya di Aceh sana, jangan kendor dan tetaplah semangat. Profesi kita memang terkadang harus berhadapan dengan tantangan dan perjuangan. Saya yakin teman-teman wartawan dan juga masyarakat akan menyertai Anda dan kita semua, " pesan Muin L.O. semangati wartawan Harian Serambi Aceh, Indra Wijaya (*)

Penulis: RENALDI

Editor: ABDUL 

Informasi : Berita ini juga tayang di NUANSABARU.ID, Media Grup Okesulsel.com. 








×
Berita Terbaru Update