Notification

×

Iklan

Iklan

Gempa Guncang Jakarta, Ini Pusat Gempa dan Dampaknya

Selasa, 23 Januari 2018 | 23.59 WIB Last Updated 2019-12-24T19:01:39Z
Okesulsel.com, Jakarta  -- Gempa berkekuatan 6,1 SR menggoyang Jakarta dan sekitarnya. Gempa tersebut berpusat di Banten, Serang terjadi pada pukul 13.34 WIB. Gempa tektonik itu terjadi di Samudera Hindia Selatan Jawa.

Dampak gempa bumi yang digambarkan peta tingkat guncangan (shakemap), BMKG menunjukkan bahwa guncangan paling dirasakan di daerah Jakarta, Tangerang Selatan, Bogor, II SIG-BMKG (IV-V MMI).

Seperti yang dikutip di Liputan6.com, hal tersebut dibuktikan oleh warga di daerah tersebut. Sejumlah fakta terungkap terkait kedahsyatan gempa Banten. Apa saja?

1. Penghuni Gedung Tinggi Berhamburan

Gempa 6,1 SR Guncang Jakarta, Penghuni Gedung Tinggi Berhamburan (Liputan6.com/M. Radityo)
Gempa berkekuatan 6,1 SR mengguncang wilayah Jakarta dan sekitarnya. Getaran gempa terasa cukup lama, sekitar 2 menit.

Gempa membuat karyawan yang berada di gedung tinggi di Jakarta panik dan berhamburan keluar gedung.

Puluhan pekerja Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jakarta Pusat, yang tengah fokus bekerja di lantai 5, seketika buyar dan menggeruduk tangga darurat.

"Gempa, gempa," ujar para pekerja di lokasi, Jakarta Pusat, Selasa (23/1/2018).

Seorang pegawai bernama Rina Ayu menceritakan kengerian gempa tersebut. Menurut dia, hal ini persis dengan kejadian yang dialami saat bencana gempa di Yogya 2007 lalu.

"Saya trauma, ini persis seperti waktu itu," kata Rina.

2. Ratusan Rumah Roboh

Rumah roboh akibat gempa Banten yang mengguncang sejumlah daerah di Jawa Barat. (istimewa)
Gempa Banten 6,1 SR menggoyang wilayah Jakarta dan sekitarnya. Daerah yang mengalami goncangan hebat dirasakan warga Ibu Kota, Sukabumi, Bogor, Cianjur dan daerah lainnya.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat beberapa bangunan mengalami kerusakan sedang hingga parah. Bahkan sejumlah orang terluka.

"Data sementara, ratusan rumah rusak akibat gempa Banten. Di Kabupaten Sukabumi terdapat 9 rumah rusak ringan, 1 rumah rusak sedang, 1 masjid rusak berat, dan 2 fasilitas umum kesehatan rusak ringan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangannya, Jakarta, Selasa (23/1/2018).

Sementara di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sebanyak enam pelajar luka berat dan dua pelajar luka ringan. Mereka terluka setelah tertimpa genteng yang runtuh di SMK Tenggeung, Kecamatan Tanggeung, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat.

"Juga terdapat 1 rumah rusak berat di Desa Tanggeung dan 1 rumah rusak berat di Desa Pagermaneuh," imbuh dia.

Kerusakan akibat gempa Banten juga terlihat di Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Beberapa rumah dan bangunan rusak di Kecamatan Sukajaya, Kecamata Nanggung, Kecamatan Megamendung, Kecamatan Caringin, dan Kecamatan Cijeruk.

"Sebanyak 7 rumah rusak berat dan 5 rumah rusak ringan. Data akan bertambah karena diperkirakan masih terdapat bangunan yang rusak," jelas Sutopo.

3. Klasifikasi Kedalaman Menengah

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat, Prof Dwikorita Karnawati menjelaskan, usai gempa dengan skala 6,1 skala Richter akibat subduksi lempeng Indo-Australia terdapat sejumlah gempa susulan.

"Sudah ada 20 kali gempa susulan dengan skala yang semakin rendah. Gempa ini berpusat di wilayah Samudera Hindia selatan Jawa," kata Dwikorita di Kantor BMKG Wilayah III Denpasar, Selasa (23/1/2018).

Ia melanjutkan, karena gempa ini relatif kecil, sehingga tidak cukup kuat untuk membangkitkan perubahan di dasar

dasar laut yang dapat memicu terjadinya tsunami.

Dwikorita menjelaskan, gempa yang cukup besar itu dirasakan hingga ke Lampung, Sumatera. Gempa bumi ini termasuk dalam klasifikasi berkedalaman menengah akibat aktivitas subduksi lempeng Indo-Australia ke bawah Lempeng Eurasia.

Dengan mekanisme sumbernya berupa sesar geser naik (oblique trust), maka gempa terjadi akibat dari gerak lempeng tektonik, yaitu di Indo-Australia yang menunjang masuk ke bawah lempeng Uerasia.

"Akibatnya terjadi getaran, guncangan bahkan patahan yang akhirnya memicu terjadinya gempa bumi," ujarnya.

"Patahannya naik tapi agak memutar, menggeser tidak murni naik. Kekuatannya belum cukup menghentakkan air di atasnya," tambahnya.

4. Pasien RS Dievakuasi

Sejumlah pasien di RS Hermina dievakuasi ke tempat parkir (Liputan6.com/Achamd Sudarno)
Gempa berkekuatan 6,1 skala Richter (SR) yang berpusat di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, Selasa (23/1/2018) siang, terasa hingga beberapa wilayah di Jawa Barat. Sejumlah rumah sakit pun melakukukan evakuasi darurat terhadap para pasiennya.

Sejumlah rumah sakit, seperti rumah sakit Hermina di Jalan Pancoran Mas, Depok mengevakuasi sejumlah pasien saat guncangan gempa terjadi.

Hatim Varaby, salah satu keluarga pasien di RS Hermina Depok mengaku cukup panik akibat guncangan gempa bumi tersebut.

"Tadi saya sedang berada di dalam ruangan, karena menjaga bapak saya yang lagi dirawat," kata dia.

Menurut Hatim, getaran gempa dirasa cukup kuat. Secara spontan, yang ada di rumah sakit langsung berhamburan ke luar ruangan. Ayahnya, yang dirawat, juga dievakuasi perawat dari lantai empat menuju area parkir rumah sakit.

"Tadi dievakuasi lewat tangga darurat khusus evakuasi," ujar Varaby.

Tak hanya di Depok, kepanikan juga terlihat, di RS Hermina Kota Bogor, pengunjung dan perawat berhamburan keluar ruangan. Bahkan, beberapa pasien turut dibawa keluar ruangan menggunakan tempat tidur.

5. Pengunjung Restoran Nyaris Lupa Bayar

Gempa yang menguncang Jakarta ini juga dirasakan salah seorang pengunjung restoran sushi di Senayan City. Salah seorang pengunjung yang memilih untuk pulang, Puti Lenggogeni, mengatakan, gempa terasa kuat sekali guncangannya.

"Kuat banget. Makanya ini langsung keluar dan mau pulang," kata Puti.

Puti mengakui karena kepanikan tersebut nyaris banyak tamu yang sedang makan di restoran sushi itu kabur dan lupa bayar. Termasuk dia.

"Pas bangkit, dan dalam keadaan panik, hampir saja mau keluar tapi ingat harus bayar. Jadi panik-panik sambil tanya bill mana bill mana?" kata Puti.

Puti dan saudaranya pun pulang ke rumah padahal masih ingin lama-lama bercengkrama sambil makan siang.

"Mending pulang saja deh daripada kenapa-kenapa," dia memungkas.




×
Berita Terbaru Update